MINSET PELAJAR MENGENAI TAWURAN
Apa yang kamu ketahui tentang tawuran ? Mungkin sebagian orang mendefinisikan tawuran sebagai hal yang negatif. Tawuran antar pelajar merupakan fenomena sosial yang sering terjadi di Indonesia. Para pelajar remaja yang sering melakukan aksi tawuran tersebut lebih senang melakukan perkelahian di luar sekolah. Tidak jarang kita juga mengetahui melalui kabar maupun media massa lainnya. Tawuran merupakan tindakan yang tidak patut untuk di contoh karena melibatkan tindakan kekerasan. Tawuran termasuk dalam perilaku menyimpang sebagai pelanggaran terhadap norma- norma kelompok atau masyarakat. (menurut Paul B.Horton )
Tawuran antar pelajar bisa terjadi karena pada masa tersebut, para remaja sedang mengalami krisis identitas, identitas diri yang di cari remaja adalah bentuk pengalaman terhadap nilai – nilai yang akan mewarnai kepribadiannya. Dikarenakan remaja yang memiliki krisis identitas sebagian dari oknum mudah untuk memanfaatkannya sehingga para pelajar dapat terprovokasi. Provokasi tersebut menjadikan perpecahan antar pelajar yang menyebabkan terganggunya proses belajar mengajar. Tawuran memang tidak terjadi secara kebetulan mungkin itu dapat terjadi dari berbagai faktor. Sering kali kita melihat aksi tawuran yang terjadi di kota – kota besar yang dilakukan oleh antar geng sekolah atau suatu komunitas remaja yang didasari dengan alasan solidaritas sesama teman.
Tawuran biasanya terjadi di antara dua sekolah yang sedang ada konflik/pertentangan. Pelaku tawuran kebanyakan adalah pelajar tingkat sekolah atas. Sudah banyak kasus tawuran yang terjadi dikarenakan hal yang sepele, seperti kalahnya dalam pertandingan, kesalahpahaman antar sekolah yang mencari sensasi untuk ketenaran. Tawuran juga dapat terjadi karena tidak bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Biasanya mereka mengalami kesulitan untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan yang kompleks, seperti keanekaragaman pandangan, ekonomi, budaya dan berbagai perubahan di berbagai kehidupan lainnya yang semakin lama semakin beragam. Pada dasarnya identitas diri remaja itu sendiri yang menyangkut konsep diri, pekerjaan, dan perannya masyarakat yang menjadi keunikan seseorang, keinginan untuk menjadi orang yang berarti dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan masyarakat. Remaja lebih rentan mengalami krisis identitas. Pertama, perubahan fisik dari anak – anak kemudian menjadi remaja. Kedua, adanya kematangan seksual, yakni ketertarikan pada lawan jenis. Ketiga, kematangan dalam berpikir.
Faktor yang dapat menyebabkan perkelahian antar pelajar bisa dikatakan seperti faktor internal, kurang kemampuan dalam mengatasi dan memanfaatkan situasi untuk pengembangan dirinya, sehingga mudah putus asa dan cepat melarikan diri dari setiap masalah. Selalu menyalahkan orang lain setiap masalahnya dan cenderung memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Selanjutnya, faktor keluarga yang biasa sering terjadi adanya tidak kekerasan dalam suatu keluarga sehingga anak berpikir bahwa kekerasan merupakan bagian dari dirinya dan suatu hal yang wajar jika dia melakukan tindak kekerasan. Faktor sekolah bisa kita temui peran guru sebagai penghukum dan pelaksana aturan yang tidak dibarengi sebagai pendidik dan pembimbing, dan masih adanya tindak kekerasan dalam mendidik siswa. Yang terakhir, faktor lingkungan rumah yang sempit/kumuh, anggota keluarga dan masyarakat yang berperilaku buruk, sarana transportasi yang sering menomorsekiankan, dan lingkungan masyarakat yang penuh dengan kekerasan dapat menimbulkan reaksi emosional berkembang yang mendukung perilaku berkelahi.
Tawuran dapat terjadi karena masalah pribadi yang dilibatkan dalam suatu kelompok sehingga terjadilah provokasi kelompok tersebut. Pada masa remaja banyak terjadi masalah yang dihadapi dikarenakan tingkah laku remaja masih labil dan belum mampu menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dari lingkungan. Ditambah lagi pelaku tersebut mengalami krisis identitas menjadikan pelaku tidak dapat mengontrol emosinya. Dari permasalahan itulah menyebabkan terjadinya tawuran antar pelajar. Oknum dalam tawuran ini bukan hanya dari kalangan pelajar saja melainkan dari alumni maupun orang luar. Seharusnya dalam kasus ini oknum – oknum tersebut harus diberi hukuman jera, supaya dapat menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat. Aparat keamanan seharusnya lebih ketat dalam menjaga ketertiban antar pelajar. Namun tidak sedikit juga orang yang menyalahkan kewenangan polisi dalam menertibkan masalah.
Tidak sedikit pun efek yang timbul dari kejadian ini. Bukan hanya dari efek kekerasan saja tetapi juga mempengaruhi psikologis pelajar dan masyarakat. Berikut dampak psikologi yang terjadi, di antaranya :
1. Membentuk kepribadian yang penuh dengan tindakan kekerasan
2. Menjadi pribadi yang mudah frustasi karena tidak bisa mencapai tujuan yang di inginkan yang disebabkan rasa takut akibat segala aksinya tersebut
3.Mudah stres karena tekanan, ketegangan yang dialaminya sehingga mengganggu kondisi mental pelajar dan tidak mampu menjalani aktivitasnya seperti biasa
4. Menimbulkan keresahan dan traumatic pada masyarakat sehingga muncul rasa takut, tidak berani berhadapan dengan kelompok pelajar
Beberapa efek yang sudah dijelaskan di atas pastinya terdapat solusi yang bisa diberikan terhadap tawuran pelajar, di antarnya adalah :
1. Dengan memandang masa remaja merupakan periode storm and drang period (topan dan badai) di mana gejala emosi dan tekanan jiwa sedang gencar dialami, sehingga perilaku mereka mudah menyimpang. Maka pelajar itu sendiri perlu mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan dapat mengembangkan bakat yang dimiliki, seperti mengikuti kegiatan kursus, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, belajar, dan sebagainya.
2. Keluarga :
• Pengasuhan anak secara baik, penuh kasih sayang, disiplin, membedakan hal baik dan buruk, bertanggung jawab, dan lain sebagainya.
• Menciptakan suasana yang hangat dan bersahabat sehingga membuat anak betah di rumah dan selalu rindu ingin pulang ke rumah.
• Meluangkan waktu untuk bersama dengan keluarga
• Memperkuat nilai moral dan beragama pada individu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari- hari.
• Melakukan pengawasan anak dalam menonton film yang berisi tindak kekerasan dan melakukan pemilahan permainan video game yang cocok dengan usianya.
3. Sekolah :
• Mengadakan kurikulum pendidikan yang baik dan bisa mengembangkan potensi anak dalam berpikir, berestetika dan berkeyakinan terhadap Tuhan.
• Adanya ruang atau lapangan olahraga di setiap sekolah, selain untuk kegiatan olahraga juga untuk penyaluran agresivitas pelajar.
• Menjalin komunikasi dan koordinasi yang terpadu , bersama- sama mengembangkan pola penanggulangan dan penanganan kasus dan bisa juga mengadakan acara pertandingan atau kesenian di antara sekolah- sekolah.
4. Aparat kepolisian juga dapat melakukan kegiatan penyuluhan disekolah- sekolah mengenai dampak dan upaya yang perlu dilakukan agar dapat menanggulangi tawuran. dan ikut andil dalam menanggulangi tawuran seperti melakukan penempatan petugas didaerah rawan guna untuk pemantauan terhadap tawuran, juga melakukan razia pada pelajar yang membawa senjata tajam.
5. Pemerintah berperan menghapuskan tayangan berbaru kekerasan yang merajalela di layar kaca. Sudah tugas negara untuk menjaga mental rakyatnya dari informasi media massa yang merusak.
Menurut pendapat saya tawuran pelajar itu tidak seharusnya terjadi. Akan lebih baik jika para siswa tersebut berkompetisi bukan dalam bidang adu otot melainkan dalam bidang adu otak. Karena mereka di didik untuk mengembangkan kemampuan berfikir otak mereka bukan untuk mengembangkan perilaku anarkis. Perilaku yang tegas dari pihak orang tua murid itu sangat diperlukan. Tak terkecuali pihak sekolah serta pemerintah untuk membantu menertibkan pelajar dengan mengirim pihak satgas. Dengan ditingkatkannya pengawasan diharapkan kasus tawuran dapat menurun.
Banyak masyarakat yang risau apabila para remaja terlibat dalam tawuran. Bukan hanya membahayakan diri sendiri tetapi dapat membahayakan orang lain. Beberapa masyarakat juga menganggap oknum yang bersangkutan dalam tawuran dianggap sebagai sampah masyarakat. Kita semua tidak mau pelajar yang berharga ini namanya dapat tercoreng dikarenakan ikut dalam tawuran. Maka dari itu pentingnya memberikan pengertian yang lebih jelas terhadap pelajar supaya dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Daftar Pustaka
Intipesan.com(2016, 21 Maret). Faktor Penyebab, Dampak, dan Solusi Terhadap Tawuran Pelajar Secara Ilmu Psikologi. Dari, https://www.intipesan.com/sp-19470/ Diakses pada 01 Januari.
Batasakhirketikan.wordpress.com(2011, 14 Oktober). Pendapat Tentang Tawuran Pelajar. Dari , https://batasakhirketikan.wordpress.com/2011/10/14/pendapat-tentang-tawuran-pelajar/ Diakses pada 01 Januari.
Komentar
Posting Komentar